Just Me..

My photo
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Universitas Gunadarma Fakultas Ekonomi

Thursday, September 10, 2009

Etika Bisnis dan Bisnis Beretika (repost)

Seorang pria bernama Morgan Spurlock mengadakan sebuah percobaan iseng. Ia adalah pria dewasa yang sehat, segar bugar, siklus hidupnya bagus, dan tidak memiliki masalah kesehatan yang berarti. Ia kemudian nekat mencoba untuk mengonsumsi junk food dari sebuah perusahaan makanan cepat saji yang cukup terkenal untuk membuktikan hipotesis bahwa junk food memberi ekses sangat negatif pada tubuh.

Sebelum melakukan percobaan, Morgan melakukan berbagai pemeriksaan klinis pada 3 dokter yang berbeda untuk mengetahui kondisi fisik dan psikisnya. Setelah itu, selama 30 hari berturut-turut ia hanya mengonsumsi junk food dari perusahaan tersebut, 3 kali sehari, dan setidaknya mencoba setiap menu yang ada minimal 1 kali. Selama periode tersebut, ia terus melakukan pemeriksaan medis. Walau demikian, aktivitas kesehariannya tetap ia lakukan seperti biasa.

Hasilnya ternyata sungguh di luar dugaan. Selama 30 hari, Morgan sering mengalami stress dan depresi, sesak nafas, pusing, sulit tidur, dan bahkan, pasangannya mengeluhkan adanya pengaruh buruk dalam kehidupan seksual dan vitalitas mereka. Selama 30 hari tersebut, Morgan mengalami kenaikan berat badan 24,5 pon, kadar kolesterol membengkak hingga 230, dan tingkat kegemukan sebesar 18%.

Lebih buruk lagi, untuk menghilangkan penambahan bobot sebesar 20 pon tersebut diperlukan waktu selama 5 bulan, dan 9 bulan lagi untuk menghilangkan sisanya. Pendek kata, kesalahan yang dilakukan hanya selama 1 bulan (baca: buying nothing but junk food) harus ditebus dengan pengorbanan selama beberapa bulan lamanya.

Cerita di atas adalah kisah nyata yang diambil dari Super Size Me, sebuah film dokumenter karya Morgan Spurlock. Selain mengisahkan tentang percobaan nekat yang dilakukan Morgan, ada beberapa hal menarik yang diungkap juga dalam film tersebut. Beberapa di antaranya:

  • Amerika nggak cuma mempunyai gedung-gedung tinggi, mobil yang pajang, tetapi juga orang-orang “besar.” Sekitar 60% penduduk Amerika diyakini mengalami obesitas, dengan konsentrasi Detroit dan Houston (Texas).
  • Gaya hidup dan makanan yang keliru tidak hanya dibayar dengan duit, tetapi juga harus ditebus dengan kondisi tubuh, kesehatan, dan risiko kematian.
  • Dalam suatu percobaan, ditunjukkan beberapa gambar tokoh (termasuk George Washington dan Jesus Christ) kepada beberapa anak. Tidak banyak anak yang bisa menebak. Mereka semua baru bisa menebak dengan tepat ketika disodori gambar badut Ronald McDonald.
  • Industri junk food telah berkembang dengan sangat pesat. Sebuah perusahaan fast food ternama, dalam 1 hari bisa melayani 46 juta orang; melebihi jumlah penduduk Spanyol.
  • Lebih parah lagi, junk food juga digalakkan melalui school lunch program.

Apa itu Etika Bisnis?

Definisi etika bisnis menurut Business & Society – Ethics and Stakeholder Management (Caroll & Buchholtz):

Ethics is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation. Ethics can also be regarded as a set of moral principles or values. Morality is a doctrine or system of moral conduct. Moral conduct refers to that which relates to principles of right and wrong in behavior. Business ethics, therefore, is concerned with good and bad or right and wrong behavior that takes place within a business context. Concepts of right and wrong are increasingly being interpreted today to include the more difficult and subtle questions of fairness, justice, and equity.

Dari sumber yang lain, disebutkan:

Ethics is a philosophical term derived from the Greek word “ethos,” meaning character or custom. This definition is germane to effective leadership in organizations in that it connotes an organization code conveying moral integrity and consistent values in service to the public.
(R. Sims, Ethics and Corporate Social Responsibility – Why Giants Fall, C.T.:Greenwood Press, 2003)

Jadi, ada beberapa kata kunci di sini, yaitu:

  • Ethics: Is the discipline that deals with what is good and bad and with moral duty and obligation, can also be regarded as a set of moral principles or values.
  • Ethical behavior: Is that which isaccepted as morally “good” and “right” as opposed to “bad” or “wrong” in a particular setting.
  • Morality: A system or doctrine of moral conduct which refers to principles of right and wrong in behavior.

Etika bisnis sendiri terbagi dalam:

  • Normative ethics: Concerned with supplying and justifying a coherent moral system of thinking and judging. Normative ethics seeks to uncover, develop, and justify basic moral principles that are intended to guide behavior, actions, and decisions.
    R. DeGeorge, Business Ethics, 5th ed. (Upper Saddle River, N.J.: Prentice-Hall, 2002)
  • Descriptive ethics: Is concerned with describing, characterizing, and studying the morality of a people, a culture, or a society. It also compares and contrasts different moral codes, systems, practices, beliefs, and values.
    R. A. Buchholtz and S. B. Rosenthal, Business Ethics (Upper Saddle River, N.J.: Prentice Hall, 1998).

Perlunya Berbisnis dengan Etika

Sebenarnya, keberadaan etika bisnis tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan “remeh” seperti, “Saya belanja Rp 50.000 tapi cuma ditagih Rp 45.000. Perlu nggak saya lapor?”, atau, “Bisakah saya melakukan tindakan tidak etis/melanggar hukum untuk meningkatkan kinerja divisi saya?”, atau, “Should I accept this gift or bribe that is being given to me to close a big deal for the company?“, atau, “Is this standard we physicians have adopted violating the Hippo-cratic oath and the value it places on human life?“, dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi.

Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997, menemukan bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

Kita Sebagai Pebisnis

Kasus yang paling gampang adalah Enron — yang begitu sering didiskusikan di ruang kuliah. Sebenarnya, Enron adalah perusahaan yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi.

Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut “spark spread“.

Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis.

Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut — dalam hal ini Arthur Andersen.

Masyarakat akhirnya juga lebih aware terhadap pasar modal. Pemerintah pun juga makin hati-hati dalam melakukan pengawasan. Penyempurnaan terhadap sistem terus dilakukan. Salah satunya adalah lahirnya Sarbanes-Oxley Act. Akibat mendzolimi pelaku pasar lainnya, Enron akhirnya terkapar karena melakukan penipuan dan penyesatan. Pun bagi “Enron-wannabe” lainnya, perlu berpikir ulang dua-tiga kali untuk melakukan hal serupa.

Memang benar. Kita tidak bisa berasumsi bahwa pasar atau dunia bisnis dipenuhi oleh orang-orang jujur, berhati mulia, dan bebas dari akal bulus serta kecurangan/manipulasi. Tetapi sungguh, tidak ada gunanya berbisnis dengan mengabaikan etika dan aspek spiritual. Biarlah pemerintah melakukan pengawasan, biarlah masyarakat memberikan penilaian, dan sistem pasar (dan sistem Tuhan tentunya) akan bekerja dengan sendirinya.

Kita Sebagai Konsumen

Ini yang lebih penting.

Memang benar, tidak ada yang bisa menjadi produsen (atau konsumen) selamanya. Ada kalanya kita berada dalam posisi sebagai penjual dan ada kalanya kita sebagai pembeli. Saya sendiri, lebih sering berada dalam posisi sebagai konsumen — alih-alih sebagai seorang produsen.

Kembali ke kasus Morgan di atas, persaingan bisnis yang kian sengit memang mengakibatkan terdistorsinya batas-batas antara right-wrong atau good-bad. Lumrah sekali kita jumpai praktik bisnis yang menembus area abu-abu. Tidak jarang pula kampanye pemasaran begitu gencar digalakkan sehingga membuat kita bahkan tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Kita “dipaksa” membeli barang yang kita tidak perlu. Kita “senang” mengonsumsi produk yang sebenarnya justru merusak diri kita. Kita “bahagia” memakai produk luar negeri sementara industri dalam negeri mulai kehabisan nafas.

Kompas beberapa waktu lalu pernah mengulas tentang gencarnya cengkeraman kapitalisme membelenggu negara-negara yang baru berkembang seperti Indonesia. Korbannya adalah masyarakat strata menengah dan masyarakat strata “agak bawah” yang “memaksakan diri” untuk masuk ke level yang lebih tinggi. Secara fundamental ekonomi, pengaruhnya jelas tidak baik karena ekonomi yang didasarkan pada tingkat konsumsi yang besar (apalagi dibiayai oleh utang) benar-benar rawan. Secara sosial, jelas fenomena ini akan menimbulkan pergeseran dan rentan terhadap benturan yang dampak turunannya sebenarnya cukup mengerikan.

Maka tak perlu heran jika di jaman sekarang seorang anak kecil akan lebih faham kosakata “starbucks”, “breadtalk”, “orchard road”, “gucci”, daripada kosakata lain seperti “gudeg”, “bunaken”, “senggigi”, “ketoprak”, dan sebagainya. Kita secara tidak sadar mengkiblatkan diri pada produk/jasa yang sebenarnya tidak terlalu bagus — melainkan karena praktik pemasaran dan operasional bisnis yang seringkali melanggar batas-batas etika.

Sebenarnya tidak ada yang “salah” dengan kapitalisme. Kapitalisme, yang didasarkan pada perdagangan, disebut Adam Smith sejak lama sebagai kunci kemakmuran. Ide ini sudah dibuktikan secara empiris oleh para akademisi. Dengan adanya perdagangan, maka spesialisasi, penghargaan, kebersamaan, perdamaian, serta kemakmuran bisa tercapai. Yang salah adalah ketika kapitalisme dijalankan dengan melanggar etika sehingga menodai nilai-nilai murni perdagangan itu sendiri.

Belajar dari pengalaman Morgan, sebagai konsumen kita memang harus mulai belajar untuk aware terhadap praktik-praktik bisnis yang melanggar batas-batas etika. Karena pada akhirnya konsumen selalu berada dalam posisi yang dirugikan. Sementara produsen memiliki kesempatan berkelit yang lebih banyak. The winner takes all.

Padahal, sebenarnya kita nggak perlu malu mengonsumsi tahu, tempe, atau daun singkong, sementara teman-teman kita makan di restoran fast food. Biarlah kita mengenakan produk dalam negeri sementara orang lain pakai Versace, Bvlgari, atau Luis Vuitton. Tidak ada yang akan menghukum kita hanya karena ponsel kita lebih lawas daripada milik rekan kita. Kita tidak perlu ganti mobil hanya karena tetangga kita barusan beli mobil baru. Kita juga tidak harus membeli rumah yang lebih besar sementara kita sendiri sebenarnya sudah cukup nyaman dengan rumah yang ada.


(sumber : http://nofieiman.com/2006/10/etika-bisnis-dan-bisnis-beretika/

Friday, December 19, 2008

Tugas Tengah Semester

Pengaruh Kegiatan Promosi terhadap Kepuasan dan Peningkatan Jumlah Pelanggan

Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp

Tema : Kepuasan Konsumen

Latar Belakang
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa sebuah proses produksi mengeluarkan produk sebagai bentuk output dari input yang dimasukkannya. Sebuah perusahaan bekerja tidak berhenti pada tahap produksi saja, melainkan ada tahap lain yaitu pemasaran produk. Sebuah produk harus dipasarkan agar produk tersebut dapat dikenal dan dibeli oleh konsumen sehingga perusahaan bisa mendapatkan laba dari penjualan produk tersebut.

Dalam pemasaran sebuah produk terdapat instrumen-instrumen di dalamnya. Bagian yang penting dari instrumen pemasaran produk adalah pesan (message) yang dikomunikasikan kepada pelanggan melalui berbagai unsur yang terdapat dalam program promosi. Program promosi merupakan saluran primer bagi komunikasi pesan kepada konsumen, baik konsumen yang ada maupun yang potensial (Stanton, 1996).

Salah satu unsur paduan pemasaran yang berpengaruh terhadap perilaku pelanggan restoran adalah paduan pengelolaan produk dan promotion mix (Oktobriono, 2003). Pengelolaan produk lebih menekankan bahwa pelanggan memerlukan jenis-jenis dan fasilitas pelayanan tertentu, seperti variabel kualitas makanan, jenis menu dan sajian makanan, hadiah, dan pelayanan. Sedangkan promotion mix adalah variabel promosi yang menggunakan kombinasi iklan, sales promotion dan personal selling.

Menurut Juanda (2005) faktor yang menjadi pertimbangan utama pelanggan dalam memilih restoran dan cafe adalah produk, pelayanan, dan promosi. Produk mencerminkan persepsi pelanggan terhadap variasi dan kualitas produk serta jasa yang diberikan oleh restoran, serta persepsi kualitas pelayanan para karyawannya. Sedangkan promosi mencerminkan persepsi pelanggan terhadap kegiatan sales promotion dan personal selling yang dilakukan.

Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp. berencana untuk meningkatkan jumlah pelanggannya di tahun 2008. Hal ini menuntut pihak penyedia jasa restoran untuk mencermati strategi-strategi pemasaran yang paling tepat. Oleh karena itu, penulisan ini dibuat untuk mengetahui pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan konsumen dan dampaknya terhadap peningkatan jumlah pelanggan. Selain itu juga untuk mengetahui strategi dan kebijakan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Atas dasar uraian di atas maka penulis memberi judul pada penelitian ini “Pengaruh Kegiatan Promosi Terhadap Kepuasan dan Peningkatan Jumlah Pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.”

Permasalahan
Dari uraian tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.
2. Seberapa besar pengaruh kegiatan promosi dan kepuasan pelanggan terhadap peningkatan jumlah pelanggan
3. Apa saja strategi dan kebijakan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.

Tujuan Penelitian
Dari uraian permasalahan di atas maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.
2. Mengetahui seberapa besar pengaruh kegiatan promosi dan kepuasan pelanggan terhadap peningkatan jumlah pelanggan.
3. Mengetahui strategi dan kebijakan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk :
1. Sebagai pertimbangan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp dalam menentukan strategi pemasaran yang harus dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggannya di tahun 2008.
2. Dapat memberikan tambahan informasi bagi peneliti berikutnya yang mengambil topik yang sama.

Kerangka Konsep
1. Kerangka Pikir
Pelanggan diminta untuk memberikan penilaian terhadap kegiatan promosi yang telah dilakukan oleh Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp selama ini. Lalu pelanggan diminta untuk mempersepsikan bagaimana kepuasan yang mereka dapatkan melalui kegiatan promosi yang telah dilakukan. Kemudian hasil dari kedua hal di atas dibandingkan dengan jumlah pelanggan yang datang. Lalu digunakan uji korelasi untuk melihat apakah ada hubungan antara kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp. Kemudian digunakan analisis regresi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tersebut.
2. Hipoesis Penelitian
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis “Kegiatan promosi berpengaruh positif terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan.”

Metodologi Penelitian

o Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah kegiatan promosi yang dilakukan manajemen restoran Steak&Ribs Kenyot Corp terhadap para konsumen.

o Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.
Sampel yang diambil menggunakan sampel acak dengan jumlah sampel 100.

o Model : Dalam penelitian ini menggunakan model deskriptif. Adalah model yang menggambarkan variable independent ataupun dependent.

Y1=X1+X2+…Xn. Variabel Independen ( X1 dan X2) adalah promosi dan kepuasan konsumen. Variabel dependen adalah jumlah pelanggan.

o Variabel dan Data
Variabel dalam penelitian ini adalah :

- Iklan

- Sales promotion

- Personal selling

- Variasi makanan

Data dalam penelitian ini adalah :

1. Data primer yang didapat dari penyebaran kuesioner dan wawancara

2. Data sekunder, yaitu data jumlah pelanggan pada periode yang lalu

o Alat Analisis

Penelkitian ini menggunakan alat analisis berupa Skala Likert

Skala Likert tersebut adalah teknik pengukuran sikap yang paling luas digunakan dalam riset pemasaran. Skala Likert disebut juga summated rating scale. Skala Likert memungkinkan responden untuk mengepresikan intensitas perasaan mereka secara lebih luas. Hal ini dimungkinkan karena pertanyaan yang terdapat dalam Skala Likert memiliki jawaban berjenjang atau dengan kata lain memilikikemungkinan jawaban yang lebih banyak. 

Dalam penelitian ini untuk mengukur variabel-variabel digunakan kuisioner dengan pendekatan “Skala Likert” dengan lima (5)angka yaitu :

Sangat Puas dengan skor 5.

Puas dengan skor 4.

Kurang Puas dengan sskor 3.

Tidak Puas dengan skor 2.

Sangat Tidak Puas dengan skor 1.

Rancangan Analsis
o Uji korelasi untuk melihat apakah ada hubungan antara kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan. Jika terdapat korelasi positif, menunjukkan bahwa kegiatan promosi yang dilakukan mempengaruhi kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan.
o Analisis regresi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang dihasilkan oleh promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan, serta seberapa besar pengaruh promosi dan kepuasan pelanggan terhadap peningkatan jumlah pelanggan.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan promosi berpengaruh terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.

Usulan Strategi

Dari hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa promosi dan kepuasan pelanggan mempengaruhi peningkatan jumlah pelanggan maka usulan strategi yang dapat diberikan adalah dengan meningkatkan biaya promosi serta memperbaiki promosi yang telah dilakukan sebelumnya untuk menarik minat pelanggan serta meningkatkan kualitas produk dan pelayanan untuk memberikan kepuasan yang lebih kepada konsumen sehingga kepuasan pelanggan tersebut akan menimbulkan loyalitas dan berdampak pada peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp.

Ada pula tindakan-tindakan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan yaitu :

1. Memberikan diskon kepada pelanggan

2. Memberikan service tambahan

3. Membuat iklan yang semenarik mungkin

4. Membuat promosi personal selling menjadi lebih gencar lagi

5. Pelatihan khusus kepada karyawannya.

Monday, October 27, 2008

tugas 3

Judul : KARAKTERISTIK DAN PERILAKU KONSUMEN PENGGUNA TEKNOLOGI GSM DAN CDM

Alamat : http://ejournal.gunadarma.ac.id/files/Cely%20dan%20Budi%2053-58.pdf

Analisis :

· Latar Belakang : Teknologi GSM yang telah lebih dulu masuk menguasai pangsa pasar yang cukup besar. Teknologi CDMA yang masuk belakangan mencoba merebut pangsa pasar dengan penawaran biaya pulsa yang lebih murah. Permasalahan bagi konsumen jika bermigrasi ke CDMA adalah keharusan mengganti perangkat keras telepon genggam. Dilihat dari sisi teknologi, CDMA dipersepsikan oleh konsumen memberikan mutu koneksi yang kurang bagus dibandingkan dengan GSM. Tetapi masing-masing operator memiliki kelemahan dan keunggulan.

· Masalah : “Bagaimana karakteristik individu pengguna operator GSM dan CDMA dan faktor yang memengaruhi keputusan pemilihan operator”.

· Tujuan : Untuk menganalisis karakteristik individu pengguna operator GSM dan CDMA, dan menganalisis faktor yang memengaruhi keputusan pemilihan operator.

· Metodologi :

1. Instrumen penelitian : Kuesioner.

2. Sampel : konsumen ITC Fatmawati yang menggunakan kartu seluler CDMA dan GSM sebanyak 190 respoden.sponden.

3. Alat analisis : Analisis menggunakan matriks korelasi, uji t sampel bebas, chi kuadrat dan anova.

4. Model : Terdapat beberapa variabel yang digunakan yaitu frekuensi penggunaan telepon, sms/mms, akses internet/wap, jenis operator yang digunakan, transfer data, video streaming.

5. Hipotesis awal :

o Ho : Tidak ada hubungan karakterisrik individu terhadap kepemilikan penggunaan kartu GSM atau CDMA

o Ho : Tidak ada hubungan karakteristik individu terhadap penggunaan fitur layanan yang terdapat pada telepon genggam

o Ho : Tidak ada perbedaan antara intensitas dan biaya penggunaan telepon genggam dan karakteristik individu terhadap pengguna kartu GSM atau CDMA

o Ho : Tidak ada pengaruh antara karakteristik individu dan intensitas penggunaan dan biaya penggunaan telepon genggam terhadap pengguna kartu GSM atau CDMA.

· Pembahasan : Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penggunaan telepon genggam, frekuensi penggunaan per hari, frekuensi penerimaan telepon per hari, dan jumlah pengeluaran per bulan di antara konsumen yang berbeda karakteristiknya. Ditemukan juga hubungan yang erat antara jumlah telepon genggam yang dimiliki, frekuensi penggunaan telepon keluar per hari, dan frekuensi penerimaan telepon per hari dengan jenis operator yang digunakan.

· Kesimpulan : Dapat disimpulkan, bahwa terdapat hubungan yang erat antara jumlah telepon genggam yang dimiliki, frekuensi penggunaan telepon keluar per hari, dan frekuensi penerimaan telepon per hari dengan jenis operator yang digunakan. Jumlah telepon genggam yang dimiliki berhubungan kuat dengan jenis operator yang digunakan, yaitu signifikan pada taraf nyata 1%.

· Saran : Penelitian ini terbatas hanya untuk menganalisis hubungan antara masing-masing karakteristik individu dengan pemilihan operator. Lebih jauh, dapat ditentukan karakteristik yang paling dominan yang mempengaruhi pemilihan operator. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk menentukan karakteristik individu yang paling penting dalam pemilihan operator. Penelitian ini juga memperlakukan masing-masing indikator secara sendiri-sendiri. Pada kenyataannya, semau indikator ini bersama-sama dalam mempengaruhi pemilihan operator. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan semua indikator individu menjadi satu variabel bebas.

Nama Pengarang : Sherly Indah Susanty, Budi Hermana (Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma)

Topik : Preferensi konsumen terhadap operator telepon seluler.

tugas 2

Judul : ANALISIS PREFERENSI MAHASISWA TERHADAP OPERATOR CDMA

Alamat : http://ejournal.gunadarma.ac.id/files/Yashinta%20133-141.pdf

Analisis :

  • Latar Belakang : Sekitar 10 tahun yang lalu sistem telepon selular GSM mulai merambah di pasar Indonesia. Perkembangan telepon selular GSM ini sangat cepat, terlihat dari data APSI (Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia) yang menunjukkan jumlah pemakai telepon selular GSM di seluruh Indonesia berkisar lebih dari 25 juta orang. Setelah telepon selular GSM berhasil merambah pasar Indonesia, maka sekarang berkembang operator CDMA dengan penekanan pada tarif yang lebih murah. Timbulnya persaingan ini, memicu keingintahuan untuk menganalisis preferensi pengguna telepon selular. Ketertarikan untuk mengetahui preferensi konsumen ini lebih dititikberatkan kepada konsumen mahasiswa dimana sebenarnya mereka mempunyai telepon selular dengan sistem GSM. Tarif GSM relatif mahal, sedangkan pendapatan mereka masih dari orang tua. Melihat tarif CDMA yang murah, ada dugaan sementara bahwa mahasiswa akan berpindah dari operator GSM ke CDMA.
  • Masalah : “Bagaimana preferensi mahasiswa terhadap operator CDMA”.
  • Tujuan : Untuk menganalisis preferensi mahasiswa terhadap operator CDMA.
  • Metodologi :

1. Sampel : Sampelnya adalah mahasiswa fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya yang sedang kuliah Pengantar Ekonomi Makro dengan cara sampling acak sederhana, jumlahnya 114 responden.

2. Populasi : Mahasiswa fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya yang sedang kuliah Pengantar Ekonomi Makro yaitu sebanyak 1271.

3. Alat analisis : Pengolahan data dilakukan dengan analisis konjoint.

4. Model : Y1=X1+X2+…+Xn. Variabel Independen ( X1 dan seterusnya ) adalah faktor. Variable dependen adalah pendapat keseluruhan dari responden terhadap faktor dan level pada sebuah produk.

5. Hipotesis awal : Mahasiswa akan berpindah dari operator GSM ke CDMA.

  • Pembahasan : Pengujian signifikan terlihat dari nilai signifikansinya dibawah 0,05 yaitu 0,0235 dan 0,0349. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pendapat 114 responden bisa diterima untuk menggambarkan keinginan populasi mahasiswa didalam pembelian telepon selular CDMA. Oleh karena pendapat responden mempunyai ketepatan akurasi yang tinggi dan pada uji signifikansi adalah signifikan, maka bisa disimpulkan bahwa pembeli telepon selular CDMA pada dasarnya menginginkan telepon selular dengan operator yang mempunyai tarif murah untuk percakapan ke telepon rumah/CDMA dan telepon selular/GSM.
  • Kesimpulan : Preferensi mahasiswa terlihat didalam pemilihan operator CDMA dimana ada beberapa hal yang diperhatikan oleh mereka yaitu:

1. Penekanan pada tarif yang murah terutama untuk menghubungi telepon rumah, CDMA, dan GSM.

2. Didalam pemilihan operator terjadi perbandingan merek bagi mereka.

3. Cenderung terjadi pemilihan untuk kartu pra bayar dibandingkan pasca bayar.

4. Waktu mau melakukan komunikasi terlihat mereka kurang memperhatikan tarif untuk nomor yang mereka tuju apakah sesama operator atau tidak.

Nama Pengarang : Yasintha Soelasih

Topik : Preferensi konsumen terhadap operator telepon seluler.

Thursday, September 18, 2008

Tugas 1

Judul : Analisis Posisi Persaingan Operator Telepon Seluler Berdasarkan Persepsi Konsumen di Kota Malang

Alamat :

http://images.soemarno.multiply.com/attachment/0/RgB0IAoKCpkAAGJVPLs1/konsumen%20telephon%20seluler%20di%20malang.doc?nmid=22634068


Analisis :
  • Latar Belakang : Operator telepon seluler merupakan produk jasa yang memberikan pelayanan dalam hal berkomunikasi. Fasilitas yang diberikan pun tidak hanya untuk bercakap-cakap saja melainkan ada juga untuk sms, akses internet dan lain-lain. Keberadaan telepon seluler sekarang ini bukan lagi sebagai barang mewah, melainkan sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang. Kemajuan yang sangat pesat ini menimbulkan banyaknya persaingan diantara para penyelenggara layanan komunikasi, yaitu operator telepon seluler. Untuk itulah penelitian ini dilaksanakan, yaitu untuk mengetahui perbedaan posisi persaingan operator telepon seluler sistem prabayar berdasarkan persepsi konsumen.
  • Masalah :Masalah dalam penelitian ini adalah "Bagaimana posisi persaingan operator telepon seluler sistem prabayar berdasarkan persepsi konsumen berpengaruh pada jumlah pelanggan di kota Malang".
  • Tujuan :
  1. Menganalisis posisi operator telepon seluler sistem prabayar berdasarkan persepi konsumen
  2. Menganalisis pengaruh posisi operator telepon seluler sistem prabayar terhadap jumlah pelanggan
  • Metodologi :
  1. Sampel : Jumlah sampel ditentukan dengan pendekatan malholtra yaitu sebesar 140 respoden
  2. Alat analisis : Multi Dimensional Scaling ( MDS ), Analisis Cluster, Analisis vektor atribut, dan analisis regresi
  3. Model :Terdapat 5 merek yang di tinjau Merek I ,merek II, merek III, merek IV, merek V
  4. Populasi : Pelanggan operator ponsel yang ada di kota Malang.
  • Pembahasan : Dari hasil penjelasan dengan menggunakan program MDS di dapatkan peta posisi operator ponsel prabayar berdasarkan persepsi konsumen dengan nilai stress 0,00519 dan fit model sebesar 0,99981. Nilai stress ini adalah sangat baik sebab menurut pendapat Maholtra nilai stress kurang dari 0,025 adalah dikategorikan sangat baik, adapun nilai index of fit sebesar 0,99 adalah sudah tepat mengingat bahwa patokan index of fit 0,99 adalah sudah tepat dan dikatakan bahwa semakin bertambah besar nilai index of fit dianggap semakin layak.
  • Kesimpulan dan saran :
  1. Kesimpulan : Operator ponsel prabayar di kota malang mempunyai posisi yang berbeda-beda berdasarkan persepsi konsumen. Peta posisi yang dihasilkan berdasarkan persepsi konsumen menunjukkan bahwa operator ponsel prabayar merek I merupakan pesaing terdekat dari merek II, merek III dan merek V merupakan pesaing terdekat dengan merek IV.
  2. Saran : Untuk meningkatakn jumlah pelanggan operator telepon seluler sistem prabayar perlu dipertahankan keunggulan atribut yang ada dan perlu melihat keunggulan atribut pesaingnya agar tetap dapat berkompetisi dan melakukan promosi yang tepat.
Nama Pengarang : Dodik Yunarwanto ( Mahasiswa Program Magister Manajemen , PPSUB )

Topik : Preferensi konsumen terhadap operator telepon seluler.